malaikatpun

.Suasana mencekam dan dingin merayap perlahan saat kain putih itu membungkus rapat seluruh tubuhku. Pandanganku gelap. Suara bising orang-orang di atas tanah pelan-pelan memudar, tergantikan oleh ketukan sekop dan gemertak tanah yang ditumpahkan menimbun raga ini.
Aku terbaring kaku, sendirian di dalam kesenyapan tanah yang menusuk tulang. Aku benar-benar tidak tahu apa lagi yang mereka lakukan di luar sana—mungkin mereka sedang mendoakan, atau mungkin justru sudah melangkah pergi meninggalkanku dalam kesendirian yang abadi.
Tiba-tiba, ruang sempit itu terasa bergetar.
Dari balik kegelapan yang pekat, sesosok bayangan tinggi besar hadir mengikis sunyi. Sosok penjaga itu berdiri tegap, memegang senjata berbilah tajam serupa parang yang berkilat mengerikan di tengah kegelapan. Aura kewibawaannya begitu kuat hingga rasanya tak ada celah untuk berlari. Merekalah sang penanya kubur.
"MAN ROBBUKA?!"
Suara itu menggelegar, mengguncang dinding-dinding kubur dan menembus hingga ke relung jiwaku yang paling dalam.
Ketakutan hebat serta-merta menguasai diriku. Badanku menggigil hebat, sendi-sendiku terkunci, dan gemetar tak tertahankan menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Seluruh kesombongan sewaktu hidup menguap tanpa sisa.
Dengan bibir yang kelu dan lidah yang terasa sekeras batu, aku mencoba memaksakan diri bersuara.
"Al... Allah..." jawabku terbata-bata, menatap bayangan ghaib di hadapanku.
Belum sempat napas lega kuembuskan, sebuah rasa sakit yang luar biasa dahsyat menyambar seluruh eksistensiku. Rasa sakit yang tak pernah terpikirkan oleh akal manusia.
Di dalam kegelapan tanah itu, aku hanya bisa menjerit kesakitan—sebuah jeritan panjang yang gaungnya tertahan di dalam kubur, tak pernah terdengar oleh mereka yang masih bernapas di atas sana.

Jeritan itu melengking tinggi, namun lenyap ditelan pekatnya dinding tanah. Tidak ada gema. Tidak ada pertolongan. Hanya ada rasa sakit yang terus membakar setiap jengkal kesadaranku.
Bilah tajam yang dibawa sosok penjaga itu terangkat lagi, berkilau dingin di tengah kegelapan yang tak bertepi. Aura di dalam kubur terasa kian menusuk, seolah-olah tanah di sekelilingku memadat dan menghimpit dadaku hingga remuk.
"WA MA DINUKA?!"
Suara itu kembali menggelegar, lebih dahsyat dari yang pertama. Kali ini guncangannya membuat jiwa ini serasa tercabik-cabik.
Badanku yang berselimut kain kafan lusuh makin berguncang hebat. Keringat dingin yang berbaur dengan ketakutan luar biasa membuat jiwaku menjerit, mencari-cari ingatan sewaktu masih menghirup udara di atas sana. Namun, di tempat ini, hafalan otak tak lagi berguna jika hati dan perbuatan tak meresahkannya sewaktu hidup.
"Is... Islam..." bisikku meletup di antara penderitaan.
Bayangan sosok penjaga itu bergerak mendekat. Tatapannya—meski tak terlihat jelas—merajam tepat ke ulu hati. Rasa sakit berikutnya menyambar kembali, lebih hebat dari tebasan mana pun yang pernah ada di dunia. Penyesalan terlambat menyusup ke dalam dada.
Aku kini paham, di dalam ruang sempit ini, tidak ada lagi ruang untuk bernegosiasi. Segala amal telah terputus, dan malam pertamaku di bawah tanah baru saja dimulai.
Rasa sakit yang membakar itu perlahan berubah menjadi derita yang menjepit. Tanah tempatku terbaring seolah bergeser, menyempit dan menekan dari kiri dan kanan. Tulang-tulang rusukku serasa berderak, melilit satu sama lain di balik ikatan kain kafan yang kini mulai terkoyak.
Di tengah jeritan batin yang tak kunjung usai, suara menggelegar itu kembali membelah kegelapan untuk ketiga kalinya.
"WA MAN NABIYYUKA?!"
Guncangannya begitu hebat hingga rasanya jiwaku melayang keluar dari raga yang sudah kaku. Siapakah nabiku? Nama itu ada di ujung lidah, namun ingatan akan masa hidupku berkelebat cepat—tentang waktu yang terbuang sia-sia, tentang perintah yang kerap kuabaikan, dan ajaran yang sering kulupakan.
Lidahku yang makin kelu terasa amat berat untuk menyebutkan nama agung itu.
"Mu... Muhammad..." ratapku dalam tangis yang tak berteteskan air mata, hanya menyisakan getaran ketakutan yang paling dalam.
Sosok penjaga bernapas dingin itu menatapku tajam. Tidak ada senyum, tidak ada belas kasihan. Bilah tajam di tangannya kembali diangkat tinggi-tinggi.
Aku memejamkan mata rapat-rapat, merapatkan sisa-sisa kesadaran yang terkoyak, pasrah menunggu babak pembalasan selanjutnya yang terasa tanpa akhir di alam barzakh ini.


Bilah tajam itu membelah udara kegelapan, siap menghantam tubuhku yang tak berdaya. Aku memejamkan mata rapat-rapat, menunggu kehancuran total.
Namun, hantaman itu tak pernah datang.
Keheningan yang amat asing mendadak menyelimuti kuburku. Rasa sesak yang menghimpit dada perlahan melonggar, dan hawa dingin yang mengerikan berubah menjadi kehangatan yang menentramkan.
Ketika kubuka mata yang gemetar, sesosok manusia berpakaian jubah putih anggun telah berdiri di depanku. Cahaya lembut memancar dari tubuhnya, menembus pekatnya tanah. Tangannya diangkat ringan, cukup untuk menahan gerakan sosok penjaga berparang tersebut.
Malaikat penanya kubur itu tertahan, menunduk penuh hormat.
"Tahan," suara sosok ber-aura agung itu bergema, begitu teduh namun memancarkan kewibawaan yang tiada tanding. Dialah Syekh Abdul Qodir Al-Jailani.
"Wahai Malaikat Allah," ucap Sang Syekh dengan lembut namun tegas. "Orang ini memang penuh dengan cela dan kelalaian sewaktu hidupnya. Amalnya tipis, dan lidahnya kufur akan dosa. Namun, ketahuilah... di hatinya sewaktu di dunia, ia pernah menanam cinta kepada para kekasih Allah, dan namanya terdaftar dalam ikatan murid-muridku."
Sosok penjaga berparang itu menurunkan senjatanya.
"Biarkan dia," lanjut Syekh Abdul Qodir. "Jika engkau hendak menghukumnya karena dosanya, maka ingatlah bahwa syafaat dan kecintaannya pada kebaikan menjadi perantara keselamatan baginya hari ini."
Detik itu juga, bayangan penjaga berparang bertransformasi menjadi sosok yang tenang, lalu perlahan menghilang ke dalam dinding-dinding kubur.
Ruang sempit yang tadinya gelap dan menyiksa mendadak meluas sejauh mata memandang. Tanah yang tadinya menghimpit berganti menjadi hamparan taman yang hijau dan harum. Rasa sakit di sekujur tubuhku hilang tanpa sisa, tergantikan oleh air mata haru dan rasa syukur yang luar biasa.
Sang Syekh menatapku sejenak, memberikan senyuman hangat yang mengusir seluruh sisa ketakutanku, sebelum akhirnya beliau menghilang dalam pendar cahaya. Aku tersungkur di atas tanah barzakh yang kini damai, menyadari betapa besarnya rahmat Tuhan dan berkah dari menintai orang-orang saleh sewaktu bernapas di dunia.

Dalam kedamaian yang baru saja tercipta, aku tertegun lama. Taman hijau itu terhampar luas, dihiasi embun-embun cahaya dan angin sepoi yang membawa aroma harum yang tak pernah ada di dunia. Tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi histeris jeritan. Hanya ada rasa haru yang membuncah di dalam dada.
Aku melihat ke bawah, pada tubuhku sendiri. Kain kafan yang tadi melilit rapat dan koyak oleh impitan tanah kini bertukar menjadi pakaian yang bersih dan ringan. Rasa sakit yang memotong-motong persendianku sebelumnya sirna sepenuhnya, seolah-olah derita itu tak pernah hinggap.
Di tengah kesunyian yang menenteramkan itu, aku duduk bersimpuh. Air mata mengalir deras dari mataku, namun bukan lagi air mata ketakutan atau kesakitan, melainkan air mata penyesalan dan penyesalan yang meleleh dalam rasa syukur yang teramat dalam.
Aku sadar betul, bukan karena hebatnya amalku aku bisa selamat. Shalatku sering lalai, dosaku mengunung, dan kebaikan yang kubuat hanya seujung kuku. Selamatnya jiwa yang hina ini murni karena rahmat Allah yang melimpah, serta syafaat yang tersambung melalui mahabbah—rasa cinta dan ikatan batin yang pernah kutanam kepada paku bumi-Nya, Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, sewaktu aku masih melangkah di muka bumi.
Di alam barzakh yang kini menjelma menjadi raudhah—taman surga—aku mengerti satu hal penting: Cinta kepada orang-orang saleh bukanlah perkara sepele. Ia adalah tali penyelamat di saat semua sandaran dunia runtuh, dan di saat amal sendiri tak cukup kuat untuk membendung keadilan-Nya.
Aku pun membaringkan diri kembali dengan tenang, menikmati kedamaian dan kehangatan yang tak terlukiskan, menunggu hari kebangkitan dengan hati yang telah menemukan kedamaiannya.


Comments