Bashiroh
"Sinar basirah (mata hati) memperlihatkan kedekatan Allah kepadamu. Mata basirah memperlihatkan ketiadaanmu karena wujud Allah. Dan hakikat basirah memperlihatkan hanya Allah yang ada, bukan ketiadaanmu dan bukan pula wujudmu."
>
Pelita di Ujung Lorong
Malam belum sepenuhnya runtuh ketika Syamsuddin duduk di hadapan lentera tembaga yang meredup. Di meja kayu lapuk itu, lembaran-lembaran kertas tertutup coretan tinta hitam. Ia seorang pemuda yang tekun bertapa dalam ilmu, mengumpulkan amalan, dan menghitung setiap rakaat serta zikirnya seolah-olah sedang menabung emas untuk membeli kemuliaan di hadapan Sang Pencipta.
Malam itu, Syamsuddin merasa lelah. Semakin banyak ia beramal, semakin ia merasa berjarak dari ketenangan. Ia merasa telah melangkah jauh, namun tujuan rasanya kian samar.
Di sudut ruangan, Sang Guru—seorang lelaki tua bersahaja yang biasa dipanggil Syekh Badru—memperhatikan muridnya dengan pandangan teduh.
"Apa yang kau cari dalam hitungan-hitunganmu itu, Syamsuddin?" tanya Syekh Badru pelan.
Syamsuddin mendongak, menyapu keringat di dahi. "Hamba ingin mendekatkan diri kepada Allah, Guru. Hamba takut jika amal hamba kurang, jarak antara hamba dan Dia semakin terbentang luas."
Syekh Badru tersenyum tipis. Ia mengambil sebatang lilin kecil yang belum dinyalakan, lalu meletakkannya tepat di samping jendela yang terbuka. Di luar, purnama sedang berada di puncak langit, memancarkan cahaya yang menguasai bumi.
"Syamsuddin, lihatlah ruangan ini. Jika kau menyalakan lilin itu untuk menerangi kegelapan, apakah lilin itu yang mendatangkan cahaya matahari?"
"Tentu tidak, Guru. Cahaya matahari sudah ada di luar sana, memeluk malam tanpa perlu bantuan lilin."
"Lantas mengapa engkau beranggapan bahwa amal-amalmu yang bertumpuk itulah yang mendatangkan Allah kepadamu?" tanya Syekh Badru lembut namun menghujam. "Engkau mengira engkau sedang berjalan mendekati-Nya dari tempat yang jauh. Padahal, Dialah yang tidak pernah berjarak darimu."
Syamsuddin tertegun. Kata-kata itu bergetar di dadanya.
"Ketahuilah," lanjut Syekh Badru, "manusia yang tertutup matanya melihat Allah itu jauh, maka ia sibuk bersusah payah mencari jarak. Namun, ketika basirah—mata hatimu—mulai terbuka, engkau tidak lagi melihat jarak itu. Engkau sadar bahwa Dialah yang selalu dekat, lebih dekat dari urat lehermu sendiri."
Syekh Badru kemudian meniup pelan lentera di meja. Ruangan itu seketika gelap dari cahaya buatan, namun seketika itu pula ruangan dipenuhi oleh tirai cahaya rembulan yang masuk menerobos jendela.
"Saat mata hatimu semakin tajam," bisik Syekh Badru di dalam remang, "engkau bahkan tidak lagi melihat dirimu yang sedang beramal. Engkau sadar bahwa dirimu, amalanmu, dan nafasmu sebenarnya tidak memiliki daya apa-apa. Semua hanya wujud dari kasih sayang dan karunia-Nya."
"Lalu... apa yang tersisa dari diri hamba, Guru?" suara Syamsuddin memelan, hampir berupa bisikan.
"Tidak ada," jawab Syekh Badru. "Hakikat dari penyaksian hati adalah ketika engkau tidak lagi melihat dirimu ada, dan tidak pula melihat dirimu tiada. Yang tersisa dalam pandangan hatimu hanyalah Wujud-Nya yang Maha Ada. Engkau tidak lagi sibuk menatap amalanmu, tetapi sibuk menatap Siapa yang memberimu kesempatan untuk beramal."
Malam itu, Syamsuddin menutup kitab catatannya. Bukan karena ia berhenti beribadah, melainkan karena ia mulai melepaskan rasa ke-aku-an dalam ibadahnya. Untuk pertama kalinya, di dalam keheningan kamar tua itu, ia tidak lagi merasa sedang berjalan mendekati Siapa-Siapa. Ia hanya merasa dipeluk oleh Kehadiran yang tak pernah meninggalkannya.
Comments
Post a Comment