cak lontong 2

Setelah gelak tawa penonton mereda, Cak Lontong menepuk bahu saya pelan. Wajahnya kembali serius—tentu saja, jenis "serius" yang justru bikin orang makin waswas.
"Tapi begini," lanjut Cak Lontong sambil membetulkan letak mikrofonnya. "Berdasarkan hasil survei yang saya lakukan sendiri kemarin sore..."
"Survei apa itu, Cak?" tanya saya, pura-pura penasaran.
"Saya melakukan survei kepada 100 orang yang sedang jalan kaki di trotoar. Pertanyaannya sederhana: 'Apakah Anda sedang berjalan?'"
"Terus jawabannya gimana?"
"100 orang menjawab: 'Iya, mas.' Ini membuktikan..." Cak Lontong jeda sejenak, menatap penonton dengan pandangan bijak. "...bahwa orang yang jalan kaki di trotoar itu emang lagi jalan! Nggak ada yang lagi berenang! Mikir!"
Penonton kembali gerrr. Saya hanya bisa memegang dahi.
"Tapi Cak," sela saya, mencoba membalikkan keadaan. "Kalau surveinya seratus persen begitu, berarti survei Cak Lontong itu nggak ada gunanya dong?"
Cak Lontong menatap saya dari balik matanya yang agak menyipit, lalu tersenyum tipis—senyuman khas seseorang yang tahu dia baru saja menyiapkan jebakan.
"Lho, justru sangat berguna! Karena dengan survei itu, saya jadi tahu kalau kamu... tidak punya bahan lawakan lain sampai harus mempertanyakan survei saya!"
Boom. Penonton bersorak meriah. Saya kena skakmat di panggung saya sendiri. Tapi anehnya, tidak ada rasa malu. Berada di panggung bersama Cak Lontong rasanya seperti main catur, tapi papan caturnya terbuat dari kerupuk—tidak usah terlalu serius, yang penting menikmati tiap gigitannya.
"Sudah, sekarang kamu yang ngomong," bisik Cak Lontong pelan tapi terdengar di mikrofon. "Saya mau istirahat. Capek pinter terus."
Giliranku tiba. Saya menarik napas dalam-dalam, menunjuk pelipis saya persis gaya Cak Lontong, lalu berkata ke arah penonton:
"Bapak, Ibu, sekalian... Tadi Cak Lontong bilang kalau bahagia itu nggak bisa dibeli dengan uang. Tapi malam ini, Bapak Ibu sudah beli tiket untuk tertawa di sini. Berarti..." Saya menggantung kalimat, menatap Cak Lontong yang mendadak diam. "...yang salah itu bukan logikanya Cak Lontong, tapi kasirnya!"
Cak Lontong melotot, lalu perlahan-lahan mengangguk-angguk anggun. Penonton meledak dalam tawa dan tepuk tangan paling riuh malam itu.
Untuk pertama kalinya, sang maestro logika terbalik terdiam... walau saya yakin, semenit lagi dia pasti punya balasan yang lebih ajaib.

Comments

Popular Posts