cak lontong 3

Cak Lontong melangkah mendekati saya dengan raut wajah yang sangat tenang, seolah-olah baru saja menemukan lawan yang seimbang di atas papan catur. Dia menggeleng-gelengkan kepala.
"Luar biasa..." kata Cak Lontong datar. "Baru kali ini ada kawan muda yang berani menyalahkan kasir."
"Lho, kan fakta, Cak! Tiketnya ada harganya!" sahut saya penuh percaya diri, merasa baru saja mencetak poin kemenangan.
"Salah!" potong Cak Lontong secepat kilat.
Penonton yang tadinya sempat tenang langsung kembali bersiap menanti ledakan logika ajaib berikutnya.
"Kok salah lagi, Cak?" tanya saya kaget.
"Bapak Ibu di sini beli tiket itu bukan beli bahagia..." Cak Lontong menarik napas dalam, merapikan jasnya, lalu melanjutkan dengan nada sangat berwibawa, "...tapi beli kursi! Coba kalau nggak beli tiket, mau duduk di mana? Di atas genteng? Mikir!"
Gerrrr! Penonton meledak lagi. Saya cuma bisa tertawa sambil menepuk jidat. Memang sulit menumbangkan pria satu ini.
"Tapi begini..." Cak Lontong menahan riuhnya tepuk tangan penonton dengan mengangkat satu tangannya. "Malam ini saya bangga sama anak muda di sebelah saya ini."
Saya agak terharu. "Terima kasih, Cak."
"Iya, saya bangga. Karena dia membuktikan satu hukum alam yang sangat penting."
"Hukum alam apa itu, Cak?"
"Bahwa setinggi-tingginya burung terbang... ujung-ujungnya tetep bakal cape juga kalau nggak mendarat. Begitu juga kamu. Semenyebalkan apa pun kamu mencoba ngelawan logika saya... ujung-ujungnya kamu tetep butuh saya buat nutup acara ini. Sederhana, kan?"
Saya tertawa lepas, lalu merangkul bahu Cak Lontong. Penonton memberikan standing ovation yang meriah. Lampu panggung perlahan meredup, menyisakan kehangatan dan gelak tawa yang masih bergema di seluruh ruangan.
Malam itu saya paham, komedi bukan cuma soal membuat orang tertawa, tapi tentang bagaimana kita merayakan keanehan berpikir dan menikmatinya bersama-sama.

Comments

Popular Posts