ciandur tempat ngawirid

Sore di Cicadas, Pandeglang, senantiasa punya caranya sendiri untuk menyampaikan tenang. Angin pegunungan berembus tipis, membawa aroma tanah basah dan samar-samar wangi kopi hitam yang baru diseduh. Di balai-balai bambu depan rumah, Haji Apip duduk menyandarkan punggungnya sambil menyeruput kopi yang masih mengepul.
Saya duduk di seberangnya, menikmati suasana sore yang santai setelah seharian beraktivitas.
Tiba-tiba, Haji Apip terkekeh sendiri. Wajahnya yang tenang berubah jenaka saat ia mengingat sesuatu.
"Naon ja ceunah di Saketi mah dagang jengkol bae geh teu laku..." ujar Haji Apip, meninggikan nada suaranya dan agak dicemprengkan, menirukan gaya bicara seorang ibu-ibu dengan gaya khas Banten yang begitu kental.
Saya yang sedang memegang cangkir hampir saja tersedak. "Komo eta mah di Ciandur..." lanjut Haji Apip masih dengan nada jenaka. "Di Ciandur mah ngan geh cocokna ngawirid beh! Ngomong kitu," ujar saya memotong, menyambung candaan yang sudah familiar di telinga kami.
Haji Apip tertawa makin lebar, menepuk lututnya.
"Atuh heueuh! Pan eta ngomong kitunama pernah ieu di Ciandur..." ujar Haji Apip menegaskan.
Saya mengerutkan dahi, sedikit penasaran karena mengira cerita soal jengkol dan ngawirid itu cuma karangan candaan orang-orang pasar saja. "Pernah di Ciandur?" tanya saya memastikan.
"Atuh heueuh! Si ibu-ibu eta kan barayana Ustaz Jufri," jawab Haji Apip santai sambil tersenyum lebar.
Saya cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa. Di Pandeglang, dari urusan jengkol yang tidak laku di Saketi, tempat ngawirid di Ciandur, sampai silsilah keluarga ustaz, semuanya bisa menyatu jadi obrolan hangat yang menghidupkan sore.
Gelak tawa kami pun pecah, menyatu bersama riuh suara jangkrik yang mulai bersahut-sahutan di balik pepohonan Cicadas.

Comments

Popular Posts