hakikat bahagia ust uzen
Matahari siang itu sedang terik-teriknya, memancarkan panas yang cukup menyengat kulit. Di sebuah pondok kecil di samping kebun, Ustadz Uzen terlihat sedang duduk santai sambil mengupas tebu menggunakan pisau. Kaos oblong yang dikenakannya tampak agak basah oleh keringat, tetapi raut wajahnya terlihat begitu cerah dan tenang.
Saya yang baru saja sampai di sana, langsung mengambil posisi duduk di atas bale-bale bambu di dekatnya.
"Ditimbang-timbang, masih jauh lebih enak begini," ujar Ustadz Uzen tiba-tiba membuka percakapan sambil menyodorkan sepotong tebu yang sudah dikupas. "Saya sih lebih enak begini daripada harus banyak tamu..."
Saya agak terkejut mendengarnya. Biasanya, seorang ustadz atau tokoh masyarakat merasa senang dan bangga jika rumahnya ramai dikunjungi tamu dari mana-mana. Namun, Ustadz Uzen justru berpikiran sebaliknya.
"Kok bisa begitu, Tad?" tanya saya penasaran, ingin tahu alasannya.
Ustadz Uzen menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecil, lalu membuang ampas tebu ke samping.
"Kalau banyak tamu itu, aduh... terlalu banyak nanya!" katanya blak-blakan. "Segala itu ditanyain, segala ini ditanyain... Dari masalah hukum agama, urusan tetangga, sampai masalah dapur orang lain ikut ditanyakan. Nah, giliran kita sudah cape-cape jawab dan melayani... tamunya kagak ngasih apa-apa!"
Saya tidak bisa menahan tawa mendengar jawaban yang begitu jujur dan polos itu. Itu bukan sekadar gurauan, melainkan realita unik yang sering beliau rasakan.
"Mendingan kita mah begini saja lah," lanjut Ustadz Uzen lagi sambil menunjuk ke arah kebun di belakang pondok. "Mending begini... nanam pohon kayu, nanam cabai... Rasanya jauh lebih nikmat. Hati tenang, badan sehat, hasilnya terasa sendiri. Enggak pusing mikirin omongan orang."
Saya menatap ke arah kebun. Pohon-pohon cabai yang berbuah lebat hijau-kemerahan serta deretan bibit kayu yang mulai tumbuh tinggi menjadi saksi bagaimana Ustadz Uzen menemukan ketenangannya. Di sini, jauh dari pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu, beliau menemukan hakikat kebahagiaan yang sebenarnya: bekerja dengan tangan sendiri, menikmati udara bebas, dan menyyukuri hidup tanpa perlu berpura-pura.
Comments
Post a Comment